Desember 6, 2022

Kediri: Setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Ada beragam cara masyarakat memperingati Hari Pahlawan sekaligus mengenalkan sosok para pahlawan kepada anak-anak. 
 
Kapolsek Pare, Kabupaten Kediri, AKP Bowo Wicaksono,  juga memiliki cara sendiri dalam merefleksikan momentum tersebut. Berbekal wayang buatan sendiri, dengan beragam karakter tokoh para pahlawan, ia mengenalkan para pahlawan kepada anak-anak
 
Wayang-wayang itu dibawanya, dikenalkan kepada anak-anak di Taman Kanak-kanak Desa Darungan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Layaknya pertunjukan wayang kulit, pentas digelar di halaman sekolah yang rindang, menyatu dengan alam.


Bagi Bowo,  mengenalkan sosok para pahlawan kepada anak-anak sehingga mereka bisa lebih kenal, bisa meneladani perjuangan mereka, merupakan sesuatu yang sangat penting.
 

Wayang dipilih sebagai bahan edukasi kepada anak-anak, sebab wayang merupakan kesenian tradisional asli Indonesia. Dengan wayang pula, anak-anak dapat lebih memahami sosok tokoh pahlawan.
 
Wayang lebih mudah dilihat secara visual, sehingga anak-anak pun dapat lebih menangkap karakter sosok wayang yang ingin dikenalkan.
 
Ada beragam tokoh yang dibuat oleh Kapolsek Pare, Kabupaten Kediri. Setidaknya terdapat 35 karakter tokoh antagonis (yang merupakan karakter yang menentang) dan protagonis atau karakter utama.
 
Beberapa tokoh pahlawan yang dikenalkan di antaranya adalah Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno, Tuanku Imam Bonjol yang terkenal dengan kisah Perang Padri, dan RA Kartini yang merupakan pelopor emansipasi wanita.
 
Ada juga karakter Panglima Sudirman, yang merupakan Panglima Besar pertama di jajaran  Tentara Indonesia. Kemudian, Sultan Hasanuddin yang terkenal karena semangat dan keberaniannya dalam menentang monopoli perdagangan rempah-rempah yang dilakukan oleh VOC atau zaman Belanda, serta berbagai macam karakter lainnya.
 
Tokoh-tokoh wayang itu dibawa ditancapkan di batang pisang. Anak-anak dengan mudah melihat karakter tokoh wayang saat ditancapkan di batang pisang tersebut. Seperti halnya panggung pertunjukan wayang kulit, di pergelaran itu ada dua gunungan, di kanan dan kiri. Sisi kanan berjajar tokoh protagonis sedangkan di sisi kiri berjajar tokoh-tokoh antagonis.
 
Tidak ada perlengkapan khusus seperti saat dalang sedang pentas. Hanya ada tokoh wayang, perangkat pengeras suara (sound system) yang mengumandangkan lagu anak-anak, serta poster bergambar wajah para pahlawan untuk dibagikan kepada anak-anak.
 
Baju pun memakai baju dinas polisi, bukan dalang. Pentas dilakukan bagian dari program layanan masyarakat oleh jajaran kepolisian. Pentas dilakukan saat jam dinas.
 
Wajah semringah terlihat pada anak-anak TK di Desa Darungan, yang menonton pertunjukan wayang karakter tersebut. Bukan tegang atau rasa bosan, tapi riang dan bahagia yang mereka rasakan.
 
Mereka tertawa bersama-sama, diajak bernyanyi bersama sekaligus dikenalkan berbagai tokoh karakter pahlawan bangsa yang dibingkai menjadi bentuk wayang. Satu per satu anak-anak ke depan. Mereka ditanya ingin menyanyi apa, dan baru dikenalkan dengan tokoh wayang.
 
Lagu Garuda Pancasila dan Balonku Ada Lima, menjadi lagu favorit anak-anak. Dengan bersemangat mereka menyanyi bersama. Mereka menyanyi dengan lantang dan gembira. Teman-temannya pun ikut bernyanyi bersama.
 
Tidak berhenti di situ, Kapolsek pun membagi-bagikan poster bergambar para tokoh pahlawan. Semua anak-anak juga mendapatkannya. Setelah itu, mereka tetap bernyanyi bersama.
 
Para guru pun juga mengapresiasi pementasan wayang karakter tersebut. Mereka juga menyiapkan hadiah kecil berupa susu dan aneka camilan untuk anak-anak.
 
*Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news medcom.id
 

(WHS)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.