Desember 5, 2022

Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat dana-dana asing keluar dari pasar keuangan domestik selama sepekan. Berdasarkan data transaksi pada 14-17 November 2022, dana dari investor asing (nonresiden) tersebut tercatat jual neto (outflow) sebanyak Rp1,02 triliun.
 
Minggatnya dana asing dari pasar keuangan domestik tersebut utamanya berasal dari pasar saham sebesar Rp2,84 triliun. Sedangkan dana asing dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) justru masuk (inflow) sebanyak Rp1,83 triliun.
 
“Selama 2022, berdasarkan data setelmen sampai dengan 17 November, nonresiden jual neto Rp166,14 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp75,83 triliun di pasar saham,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dikutip dari rilis Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah, Sabtu, 19 November 2022.
 
Adapun premi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia lima tahun naik ke level 111,99 basis poin (bps) per 17 November 2022 dari 103,32 bps per 11 November 2022. CDS merupakan indikator untuk mengetahui risiko berinvestasi di SBN.
 
Semakin besar skor CDS, maka risiko berinvestasi di SBN juga semakin tinggi. Sebaliknya jika skor semakin kecil, maka risiko investasinya juga semakin rendah.
 
Minggatnya aliran modal asing dari pasar keuangan domestik tersebut turut membuat nilai tukar rupiah semakin terpuruk di hadapan dolar AS. Mata uang Garuda tersebut semakin mendekati level Rp15.700 per USD.
 

 
Mengutip data Bloomberg, Jumat, 18 November 2022, nilai tukar rupiah terhadap USD berada di level Rp15.684 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 22 poin atau setara 0,14 persen dari posisi Rp15.662 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
 
Data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp15.684 per USD. Rupiah turun 25 poin atau setara 0,15 persen dari Rp15.659 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
 
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp15.692 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun lima poin dari Rp15.687 per USD di perdagangan sebelumnya.
 
Terkait hal tersebut, Erwin menekankan Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. “Serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” tutup dia.
 
*Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id*
 

(HUS)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.