Desember 5, 2022

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa secara resmi menutup penyelenggaraan Guru dan Tenaga Kependidikan/GTK Creative Camp (GCC) Batch 3 Tahun 2022 di Hotel Novotel Samator Surabaya, Jumat (18/11/2022). 

Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah mengatakan, bahwa pelaksanaan GCC ini penting untuk mendorong lahirnya kreativitas, inovasi, kompetensi dan profesionalisme dari para kepala sekolah, guru dan para pengawas sekolah yang ada di Provinsi Jawa Timur.

“Kreativitas dan inovasi dari para kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan akan mampu melahirkan semangat daya saing sehingga mampu bertahan terhadap berbagai dinamika dan perubahan zaman yang terjadi di era globalisasi dan transformasi digital saat ini,” katanya.

Menurutnya, guru yang transformatif adalah guru yang memiliki kemampuan membuat perubahan-perubahan dalam pola pembelajaran, metode dan hasil karya dengan cara-cara yang inovatif. 

“Hal ini untuk menciptakan proses pembelajaran yang tidak hanya untuk hari ini, tetapi bagaimana membekali siswa dengan keterampilan yang adaptif untuk masa yang akan datang,” katanya.

Para guru dan tenaga kependidikan dituntut untuk adaptif terhadap perubahan. Apalagi saat ini, perubahan adalah sebuah kebutuhan. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Guru Besar Sosiologi Unair yakni Prof Soetandyo bahwa ‘Hidup adalah perubahan, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri’. 

“Jadi jangan anti perubahan. Untuk itu adaptasi menjadi penting. Adaptasi strategis jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, akan menjadi referensi bagi para guru untuk didiseminasikan kepada para siswa dan ekosistem di lingkungan sekolahnya masing-masing,” katanya.

Tidak hanya itu, ditegaskan Khofifah, inovasi merupakan sesuatu yang bisa memberikan kebaikan-kebaikan, perubahan-perubahan dan update dari berbagai hal. Untuk itu, perubahan itu tidak bisa ditunggu dengan berdiam diri, namun harus dengan terus bergerak.

“Pergerakan itu butuh ekosistem, dan pelaksanaan GCC ini adalah sebuah ekosistem yang disiapkan oleh Dinas Pendidikan Jatim. Oleh karena itu kalau di masing-masing kabupaten/kota pergerakan itu terus dilakukan, maka semangat dan optimisme itu akan terus tumbuh, berbagai improvement  dan berbagai inisiasi akan terus tumbuh,” katanya.

Maka, Khofifah berharap para guru dan tenaga kependidikan hendaknya mampu menjadi Game Changer. Yaitu figur yang menggunakan segenap kekuatan daya cipta yang dimilki baik visinya, kehendaknya maupun karakter personalnya untuk menciptakan gagasan maupun produk barunya, yang dapat memberi makna baru dan mengubah kehidupan secara mendasar bagi diri dan lingkungannya. 

“Kita harus jadi game changer. Kita lah yang bisa merubah keadaan. Kalau sekarang anak-anak mengenal para game changer seperti Mark Zuckenberg, Elon Musk atau Steve Jobs, maka salah satu game changer kita di level internasional adalah Bung Karno. Beliau bisa memberikan referensi dunia bagaimana KTT non-blok bisa dilaksanakan dalam suasana yang tidak mudah saat itu,” katanya.

“Dan hari ini salah satu game changer pasca KTT G20 kemarin kita semua sepakat bahwa game changer kita adalah Pak Presiden Jokowi. Karena beliau bisa membangun suasana kebersatuan sampai kemudian dihasilkannya Bali Declaration. Ini bagian yang tidak sederhana karena bersamaan dengan perang Rusia-Ukraina,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, para Kepala Sekolah dituntut memiliki jiwa kepemimpinan atau leadership. Dimana para kepala sekolah sebagai policy maker dan desicion maker harus bisa mengambil keputusan.

“Maka leadership bagi seorang kepala sekolah, kepala cabang dinas pendidikan, dan kepala OPD begitu pentingnya. Oleh karena itu we need strong power leader di lini manapun,” katanya.


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.