Desember 5, 2022

SURYA.CO.ID, BLITAR – Produsen tahu dan tempe di Kota Blitar mulai menaikkan harga jual dampak mahalnya harga kedelai.

Harga kedelai sebagai bahan baku produksi tahu dan tempe terus melambung sekarang tembus Rp 13.900 per kilogram di tingkat agen.

Sedang harga ecer kedelai di pasaran sekarang mencapai Rp 14.500 per kilogram.

“Sudah sepekan ini, kami menaikkan harga jual tahu. Sebab, harga kedelai terus naik. Sekarang, harga kedelai di agen sudah tembus Rp 13.900 per kilogram. Kalau harga eceran di pasaran bisa lebih dari Rp 14.000 per kilogram,” kata Arif Ristianto, produsen tahu di Kelurahan Pakunden, Kota Blitar, Selasa (8/11/2022).

Ristianto mengatakan, harga jual tahu dari produsen yang sebelumnya Rp 2.000 per potong sekarang dijual dengan harga Rp 2.500 per potong.

Selain menaikkan harga jual, ukuran irisan tahu juga diperkecil.

Baca juga: Terus Merugi Karena Harga Kedelai Makin Mahal, Pengusaha Tahu di Gresik Terpaksa Menaikkan Harga

Baca juga: Keluhkan Harga Kedelai yang Tinggi, Perajin Tempe di Kota Madiun Terpaksa Naikkan Harga Dagangan

Hal itu sebagai cara agar produsen tahu tidak merugi dampak mahalnya harga kedelai.

“Dampaknya, penjualan tahu ke konsumen juga ikut menurun. Karena harganya naik, sedang ukuran tahu lebih kecil. Tapi, kalau tidak dengan cara itu, produsen rugi karena harga kedelai mahal,” ujarnya.

Hal sama diungkapkan pedagang tempe di Pasar Pon, Kota Blitar, Usman. Usman mengatakan juga menaikkan harga jual tempe di pasaran.

Harga jual tempe yang semula Rp 4.000 per potong kini dijual dengan harga Rp 5.000 per potong.

“Harga kedelai terus naik, akhirnya kami juga menaikkan harga jual tempe. Kalau harga jual tidak dinaikkan, perajin merugi,” katanya.

Tapi, kata Usman, karena harga naik, tingkat penjualan tempe ikut menurun.

Menurutnya, sejumlah konsumen komplain karena harga jual naik tapi ukuran tempe malah lebih kecil.

“Kalau harga jual tidak dinaikkan, perajin rugi. Tapi, kalau harga naik, penjualannya turun,” ujarnya.

Sementara itu, produsen tempe di Kelurahan Pakunden, Mufid mengatakan sampai sekarang belum berani menaikkan harga jual tempe.

Ia khawatir kalau harga tempe dinaikkan, tingkat penjualannya turun.

Ia memilih memperkecil ukuran irisan tempe untuk menyiasati mahalnya harga kedelai.

“Saya belum berani menaikkan harga jual tempe. Karena saya sudah punya pelanggan tetap. Tapi, tidak tahu nanti kalau harga kedelai terus naik, mungkin saya juga harus menaikkan harga jual tempe,” katanya.

BACA BERITA SURYA.CO.ID DI GOOGLE NEWS LAINNYA


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.