Desember 8, 2022

Jakarta: KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mengunggah puisi gubahannya di akun media sosial Instagram miliknya @s.kakung. Puisi tersebut ia unggah untuk memperingati Hari Pahlawan 2022.
 
Puisi tersebut berjudul Taman Pahlawan. Puisi yang ditulis Gus Mus pada tahun 1414 Hijriah atau sekitar tahun 1993 (zaman orde baru) itu menceritakan Marsinah, seorang buruh pabrik yang vokal membela rekan sesama buruh.
 
“Mereka yang mengalami zaman Orde Baru, pasti tahu dan ingat nama Marsinah. Perempuan sederhana yang memperjuangkan nasib sesamanya, kaum buruh, dan oleh karenanya mendapat perlakuan yang keji dan kejam dari pihak yang berkuasa (pelaku yang sebenarnya tak terungkap hingga kini),” tulis Gus Mus, seperti dikutip Medcom.id, Sabtu,12 November 2022.


Dalam unggahan tersebut Gus Mus juga mengunggah sebuah kolase foto. Yang berisi foto Bung Tomo, Marsinah, dan iring-iringan.
 
“Aku mencatatnya dan tiba-tiba ingin mengunggahnya di Hari Pahlawan ini,” lanjut Gus Mus.
 
 

 
Hari Pahlawan 10 November, Gus Mus Unggah Puisi Tentang Marsinah Begini Isinya
(Unggahan puisi Gus Mus berjudul Taman Pahlawan di Instagram @s.kakung)
 
Berikut puisi lengkap Gus Mus berjudul Taman Pahlawan
 
Di Taman Pahlawan
 

Di Taman Pahlawan beberapa pahlawan sedang berbincang-bincang tentang keberanian dan perjuangan.
 

Mereka bertanya-tanya apakah ada yang mewariskan semangat perjuangan dan pembelaan kepada yang ditinggalkan?
 

Ataukah patriotisme dan keberanian di zaman pembangunan ini sudah tinggal menjadi dongeng dan slogan?
 

Banyak sekali tokoh di situ yang diam-diam ikut mendengarkan dengan perasaan malu dan sungkan.
 

Tokoh-tokoh ini menyesali pihak-pihak yang membawa mereka kemari ke Taman Pahlawan ini karena menyangka mereka juga pejuang-pejuang pemberani.
 

Lalu menyesali diri mereka sendiri yang dulu terlalu baik memerankan tokoh-tokoh gagah berani tanpa mengindahkan nurani.
 

Bunga-bunga yang setiap kali ditaburkan justru membuat mereka lebih tertekan.
 

“Apakah ini yang namanya siksa kubur?” tanya seseorang di antara mereka yang dulu terkenal takabur.
 

“Tapi kalau kita tak disemayamkan di sini, makam pahlawan ini akan sepi penghuni,” kata yang lain menghibur.
 

Tiba-tiba mereka mendengar tentang Marsinah.
 

Tiba-tiba mereka semua yang di Taman Pahlawan, yang betul-betul pahlawan atau yang keliru dianggap pahlawan, begitu girang menunggu salvo ditembakkan dan genderang penghormatan ditabuh lirih mengiringi kedatangan wanita muda yang gagah perkasa itu.
 

Di atas, Marsinah yang berkerudung awan putih berselendang pelangi tersenyum manis sekali, “Maaf kawan-kawan, jasadku masih dibutuhkan untuk menyingkap kebusukan dan membantu mereka yang mencari muka. Kalau sudah tak diperlukan lagi biarlah mereka menanamnya di mana saja di persada ini sebagai tumbal keadilan atau sekedar bangkai tak berarti.”
 

1414 H

 
Sebelumnya, Gus Mus juga pernah membacakan puisi ini pada 10 November 2020 lalu. Video Gus Mus membacakan puisi yang berusia 29 tahun ini diunggah di kanal YouTube GusMus Channel.
 


 

(RUL)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.