Desember 8, 2022

SURYA.co.id | SURABAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Surabaya selama 2022 menjadi tertinggi di Jatim. Mendapatkan nilai 82,74, Surabaya mendapatkan kategori IPM sangat tinggi dan berada di atas nilai provinsi (72,75).

Selain Surabaya, kategori sangat tinggi (di atas 80) juga didapat Kota Malang, Kota Madiun, dan Kabupaten Sidoarjo. Ada beberapa komponen penilaian, di antaranya menyangkut Umur Harapan Hidup saat Lahir (UHH), Harapan Lama Sekolah (HLS), Rata-rata Lama Sekolah (RLS), hingga Pengeluaran per Kapita yang disesuaikan (PPP).

Di Jatim, pengeluaran perkapita yang disesuaikan tahun 2022 tertinggi tercatat di Surabaya sebesar Rp18,35 juta, diikuti Kota Malang (Rp16,90 juta), Kota Madiun (Rp16,50 juta) dan Kabupaten Sidoarjo Rp14,81 juta). Sementara itu, pengeluaran perkapita yang disesuaikan terendah tercatat di Kabupaten Sampang sebesar Rp8,94 juta.

Menanggapi hal ini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menilai masih banyak potensi yang bisa ditingkatkan. “(Hasil BPS) Ini penilaian. Namun, bagi saya ini harus jauh diperbaiki lagi,” kata Cak Eri di Surabaya, Minggu (20/11/2022).

Satu di antaranya, soal Harapan Lama Sekolah (HLS). Menurutnya, pemkot Surabaya menyiapkan sejumlah intervensi untuk memastikan pendidikan anak selesai hingga Perguruan Tinggi.

Mulai mendukung wajib belajar 12 tahun, intervensi biaya pembebasan ijazah untuk siswa yang menunggak spp, hingga beasiswa Perguruan Tinggi. “Indeks pembangunan manusia juga dilihat dari lamanya menempuh pendidikan,” katanya.

“Hari ini, banyak anak SMP-SMA yang kesulitan biaya sampai nggak bisa mendapatkan ijazah. Ini yang harus dikebut (diselesaikan),” kata Cak Eri.

Pria yang kini menempuh program doktoral jurusan Pengembangan SDM di Unair ini optimistis hal ini bisa dikebut tahun depan. Pihaknya akan menggandeng banyak pihak, terutama para guru hingga perguruan tinggi.

“(Hasil BPS) Ini sebagai acuan, namun bukan sebuah kebanggaan. Sebab, bisa jauh lebih tinggi. (Apabila) angka yang menjadi indikator tersebut bisa dilakukan (mendapat intervensi), maka (IPM) akan semakin tinggi,” kata mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini.

Para pendidik juga diajak untuk lebih humanis. Momentum Hari Guru Nasional dan HUT Ke 77 PGRI tahun 2022 bisa menjadi pelecut meningkatkan kualitas pendidikan di Surabaya.

“Saya berharap, pendidikan di Surabaya itu bisa berubah. Kalau soal mutu pendidikan jangan ditanya lagi, Surabaya pasti bermutu,” katanya.

“Tapi kalau soal humanis, itu perlu digaris bawahi, bagaimana kita menjadikan siswa ini memiliki rasa segan dan hormat pada gurunya,” kata Wali Kota Eri.

Para guru bisa meningkatkan ikatan batin dengan muridnya. Sehingga, bisa melahirkan siswa berkarakter.

“Karena tugas saya dengan panjenengan (guru) itu tujuannya satu, menciptakan anak – anak yang memiliki jiwa pemimpin bangsa dengan akhlakul karimah,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh menyampaikan, di peringatan Hari Guru Nasional dan HUT Ke 77 PGRI tahun 2022 ini, akan mengubah beberapa hal. Diantaranya, soal penambahan bangunan sekolah dan mengubah jam belajar.

“Selain pendidikan karakter, sekolah yang mempunyai jadwal belajar mengajar dua shift pagi dan siang, nanti kita ubah menjadi satu shift. Karena kalau dua shift, itu akan mempengaruhi psikologi dan kesehatan, serta kualitas belajar murid,” ucap Yusuf.


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.