Desember 5, 2022

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Untuk memfasilitasi mahasiswa menyambut dunia karir yang sesuai dengan perkembangan zaman, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya meluncurkan Career Development Program yang merupakan program dari Direktorat Kemahasiswaan Subdit Pengembangan Kewirausahaan dan Karir.

Kasubdit Pengembangan Kewirausahaan dan Karir Arief Abdurakhman mengungkapkan program ini sebagai salah satu upaya membantu lulusan ITS dalam memasuki dunia kerja.

“Mengacu pada Indikator Kerja Utama Perguruan Tinggi dimana lulusan ITS bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, melanjutkan studi, atau menjadi wiraswasta, menjadi dasar program ini diluncurkan,” ujarnya usai pembukaan Career Development Program di Ruang Auditorium Gedung Research Center ITS, Kamis (10/11/2022).

Arief mengatakan program imi diharapkan menjadi jembatan kompetensi antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan Industri dan karir.

Baca juga: Bayu Skak dan Keysa Levronka Ramaikan Peresmian Gedung Mini Twin Tower Dua Fakultas UWKS

Baca juga: Dosen dan Mahasiswa ITS Kenalkan Budidaya dan Teknologi Pengolahan Lele Modern di Pamekasan

“Sehingga dapat diterapkan secara lebih masif dan komprehensif yang nantinya akan dapat memberikan outcome yang impactfull (berdampak) dari rangkaian pembelajaran di ITS,” katanya.

Lebih lanjut pihaknya ingin melakukan penguatan dengan berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi di Jatim. Salah satunya adalah Millenial Job Center (MJC).

“Dengan kolaborasi ini harapannya bisa terbangun sinergi dalam mengembangkan bakat anak muda di Jatim. Karena sebagian besar mahasiswa ITS ini dari Jatim,” jelasnya.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengaku sangat mengapresiasi konsep Career Development Program ITS yakni merdeka berkarir.

Menurutnya merdeka berkarir ini tujuannya untuk melepas konsep berkarir seperti pada umumnya.

“Misalnya seperti staf, supervisor kemudian manajer. Jangan terkungkung dengan konsep kerja di perusahaan. Artinya mindset konsep ini harus diupgrade ilmunya karena yang ada saat ini adalah portofolio. Jadi yang penting saat ini adalah memaksimalkan skill dan melek data,” jelasnya.

Menurutnya jiwa enterpreneur bukan berarti membuka bisnis sendiri, tapi punya kepekaan untuk menangkap peluang mengambil risiko.

“Umumnya mahasiswa teknik melihat sesuatu diukur dengan angka, misalnya satu ditambah satu sama dengan dua. Hal itu tidak salah, tapi tidak semua hal hanya mengenai angka.

Tapi juga ada kaitannya dengan dimensi-dimensi lain yang menentukan sukses tidaknya sebuah solusi teknis.

Nah inilah yang kita harapkan dengan adanya merdeka berkarir anak-anak engineering ini akan lebih terbuka lagi peluang berkaryanya,” katanya.


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.