Desember 8, 2022

SURYA.CO.ID, JEMBER – Kelompok Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) merupakan salah satu kelompok yang menjadi prioritas Pemkab Jember di masa pemulihan ekonomi pasca badai Covid-19.

Sesuai namanya, semua segmen usaha kelompok ini harus diopeni, dijaga tetap eksis, dikembangkan, sampai bisa naik kelas, bahkan bisa menghasilkan produk yang go internasional.

Seperti yang ditegaskan oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Pemkab Jember Sartini, saat berbincang dengan SURYA.co.id, Sabtu (12/11/2022).

Berdasarkan data yang disampaikan Sartini, jumlah UMKM di Kabupaten Jember mencapai 647 ribu unit. “Ini data Tahun 2021 berdasarkan dari penyaluran BPUM (Banpres Produktif Usaha Mikro), jumlah UMKM kita mencapai 647 ribu. Itu terdiri atas pelaku ultra mikro, mikro, kecil, juga menengah. Baik yang sudah memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha), maupun yang tidak. Yang usahanya menetap, maupun yang keliling,” ujar Sartini.

Dari jumlah tersebut, yang mengantongi NIB baru sekitar 10 persen.

Oleh karena itu, fasilitasi NIB merupakan hal pertama yang selalu dilakukan oleh Dinkop UKM Jember dalam membantu pelaku UMKM.

“Kami awali dari bantuan kepemilikan NIB. Kemudian ke fasilitasi tahap berikutnya,” terangnya.

NIB, menjadi pintu masuk pengembangan UMKM. Selain NIB, jika produk UMKM makanan yang punya masa kedaluwarsa 7 hari, maka juga difasilitasi pengurusan PIRT yang melibatkan Dinas Kesehatan.

Jika UKM ingin mengurusi HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) maka juga difasilitasi.

Dia mencontohkan, beberapa bulan lalu ketika ada fasilitasi pengurusan HAKI di Bakorwil V Jatim di Jember, ada 50 UKM yang mengurusi HAKI untuk produk mereka.

“Dan itu macam-macam produknya. Karena memang dari awal sudah kami klasterisasi, seperti pangan, minuman, batik, atau kraf (kriya),” lanjut Sartini.

Fasilitasi yang diberikan juga aneka pelatihan, seperti pemasaran online dan offline, juga desain dan ajang produk.

Pemkab Jember juga memiliki Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). PLUT menyediakan layanan bagi orang yang mau menjadi pelaku UKM, maupun yang sudah punya namun ingin berkembang, naik kelas, bahkan go internasional.

Mereka yang sudah menjadi pelaku UKM namun belum punya NIB, bisa dibantu di PLUT. Bagi mereka yang sudah punya NIB, namun ingin berkembang lebih, maka bisa dibantu oleh konsultan di PLUT.

“Ada lima konsultan di PLUT, yakni konsultan pengembangan SDM, produksi, kelembagaan, pemasaran, dan pembiayaan. Contoh ingin memasarkan produknya, namun tidak bisa menampilkan produk secara cantik dan menarik, bisa dibantu di PLUT,” tegasnya.

Target besar untuk pengembangan UKM tentu saja UKM naik kelas, dan go internasional. Sebab beberapa produk UKM Kabupaten Jember sudah masuk ke ranah skala nasional, juga internasional. UKM ‘on boarding’ atau sudah kelas internasional seperti kopi di Desa Sidomulyo Kecamatan Silo, manik-manik batu di Kecamatan Ledokombo, juga lumut di Kecamatan Panti.

“Dan harapan besarnya adalah berubahnya mindset pelaku UKM. Bagaimana pelaku UKM ini tidak hanya berdagang, tetapi juga pengusaha. Prinsip orang berdagang itu, adalah saya jual hari ini, barang saya habis. Namun pengusaha, bagaimana barang kita dikenal, dijual, dan kemudian pembeli order lagi. Sehingga akan ada pertumbuhan yang berdampak pada kesejahteraan ekonomi pelaku usaha, dan masyarakat sekitarnya,” tegas Sartini.

BACA BERITA SURYA.CO.ID DI GOOGLE NEWS LAINNYA


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.