November 26, 2022

Jakarta: Di tengah peningkatan ketidakpastian dan perlambatan perekonomian global, ekspor Indonesia terus melanjutkan kinerja positif. Di Oktober 2022, ekspor tercatat sebesar USD24,81 miliar atau tumbuh sebesar 12,3 persen (yoy).
 
Peningkatan ekspor tersebut didorong oleh komoditas unggulan seperti produk sawit, bahan bakar mineral, dan besi baja. Secara bulanan (mtm), ekspor tumbuh sebesar 0,13 persen sehingga secara kumulatif Januari-Oktober 2022 menjadi USD244,14 miliar atau naik 30,97 persen dibanding periode yang sama 2021.
 
“Kinerja ekspor yang tetap meningkat ini juga didukung oleh permintaan dari negara mitra dagang dengan kinerja ekonomi yang masih kuat, terutama India yang masih mencatatkan PMI Manufaktur ekspansif,” jelas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu dalam keterangan tertulis, Rabu, 16 November 2022.


Adapun ekspor non-migas secara kumulatif Januari-Oktober 2022 masih mencatatkan pertumbuhan tinggi sebesar 30,61 persen (ytd). Sementara itu pada periode yang sama, pertumbuhan ekspor migas mencapai 37,4 persen (yoy).
 
Dari sisi sektoral, sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 82,68 persen (yoy), disusul sektor manufaktur yang tumbuh mencapai 20,4 persen (yoy), sementara sektor pertanian tumbuh 14,17 persen (yoy).
 
“Pertumbuhan ekspor yang terjadi di semua sektor menjadi indikasi berlanjutnya pemulihan ekonomi secara merata (broad-based), terutama sektor manufaktur yang berkontribusi paling besar pada ekspor nasional,” tambah Febrio.
 
Di sisi lain, kinerja impor Indonesia di Oktober 2022 juga masih tumbuh positif sebesar 17,44 persen (yoy) atau mencapai USD19,14 miliar, sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi nasional. Hal ini juga tercermin pada angka PMI Manufaktur Indonesia di Oktober 2022 yang masih berada pada zona ekspansif (51,8).
 
Peningkatan impor didorong oleh impor migas dan nonmigas yang masing-masing tumbuh sebesar 77,23 persen (yoy) dan 9,56 persen (yoy). Sejak Januari hingga Oktober 2022, total impor Indonesia mencapai USD198,62 miliar. Dari sisi penggunaan, impor bahan baku dan barang modal tumbuh tinggi masing-masing 16,24 persen (yoy) dan 28,47 persen (yoy).
 
“Pertumbuhan impor barang produktif seperti barang modal dan bahan baku yang terus positif menjadi sinyal pemulihan ekonomi nasional masih berlanjut dan aktivitas usaha dalam negeri terus menguat,” tambah Febrio.
 

 
Selain itu, impor barang konsumsi yang sempat terkontraksi di September kembali tumbuh sebesar 10,14 persen (yoy) dan 4,19 persen (ytd). “Aktivitas konsumsi masyarakat menunjukkan penguatan memasuki awal kuartal IV-2022,” lanjut Febrio.
 
Masih kuatnya kinerja ekspor pada Oktober 2022 mendorong neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar USD5,67 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus pada September 2022 yang sebesar USD4,97 miliar. Capaian ini melanjutkan tren surplus neraca perdagangan yang telah terjadi selama 30 bulan berturut-turut.
 
Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan sejak Januari hingga Oktober 2022 mencapai USD45,52 miliar, jauh lebih tinggi dari surplus Januari hingga Oktober 2021 sebesar USD30,9 miliar dan bahkan melebihi total surplus selama 2021 sebesar USD35,42 miliar.
 
Ke depan, kata Febrio, pemerintah akan terus mengantisipasi dan memitigasi berbagai dinamika perekonomian global yang berpotensi memengaruhi kinerja permintaan ekspor Indonesia, di tengah mulai melambatnya ekspansi sektor manufaktur di beberapa negara mitra dagang utama pada Oktober 2022.
 
“Kita juga melihat meningkatnya risiko dan ketidakpastian prospek ekonomi global serta tren penurunan harga komoditas yang mengikutinya. Ke depan, pemerintah akan terus mendorong berbagai upaya diversifikasi ekspor, baik dari sisi pasar dan produk, penguatan strategi hilirisasi, serta mendorong optimalisasi pemanfaatan berbagai fasilitas perpajakan dan kepabeanan, seperti Kawasan Berikat dan Kemudahan Impor untuk Tujuan Ekspor (KB dan KITE),” tutup Febrio.
 
*Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id*
 

(HUS)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.