Desember 6, 2022

SURYA.CO.ID, BLITAR – Kematian memang menjadi kehendak Tuhan, tak ada yang bisa memastikan kedatangannya. Kepergian mendadak Ego (24), warga Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar saat bekerja di tengah perkebunan tebu, Kamis (10/11/2022), juga mengagetkan rekan-rekannya karena korban awalnya mendadak ambruk saat beristirahat di bawah pohon jati.

Korban meninggal menyisakan cerita pilu bagi teman-temannya. Sebab tanpa diketahui sakitnya, kepergian korban pergi begitu. Dan kematian korban itu langsung membuat gempar warga.

Pengakuan rekan-rekannya sesama buruh tebu, tanpa diketahui penyebabnya korban tiba-tiba ambruk saat duduk. “Keluarganya mengikhlaskan karena tak ada penyebab lain, karena terjadi saat korban sedang istirahat di sela bekerja sebagai buruh di perkebunan tebu,” ujar AKP Heri Purnomo Yulianto, kapolsek Binangun, Jumat (11/11/2022).

Informasinya, siang itu korban bersama rekan-rekannya sedang bekerja sebagai pembersih daun tebu di perkebunan yang sudah tua. Lahan ratusan hektare itu berada di Dusun Blumbang, Desa Ngembul, Kecamatan Binangun, sekkitar 1 KM dari rumah korban.

Kawasan tersebut tidak jauh dengan pabrik gula PT RMI (Rejoso Manis Indo), dan merupakan lahan milik Perhutani seluas sekitar 500 hektare yang disewakan ke pengusaha lalu ditanami tebu.

“Kalau musim begini, warga kami menjadi buruh di sana itu, termasuk korban. Pekerjaannya membersihkan daun tebu yang tua, agar batang tebunya bisa berkembang lebih besar,” ujar Wawan Aprilliantio, Kades Rejoso.

Saat bersama rekan-rekannya sedang berada di tengah perkebunan tebu yang sangat luas itu, mendadak korban mengeluh kalau tubuhnya tidak enak. Ia mengaku merasa gerah, dan berpamitan untuk beristirahat dulu.

Kemudian korban duduk di bawah pohon jati yang cukup rindang yang ada di antara hamparan tegalan tebu di RPH (Resort Pemangkuan Hutan) Rejoso itu. Karena terasa haus luar biasa, korban banyak minum seperti tidak biasanya.

Dan itu seperti firasat karena tak disangka setelah minum, keringat dingin mengucur dari tubuh korban sampai topi yang dikenakannya dilepas, lalu dibuat kipas. “Tak lama berselang, korban yang duduk itu ambruk dan sudah tiada, sehingga membuat pekerja lainnya kaget. Sebab sejak awal, korban diketahui sehat,” ungkapnya.

Warga bersama petugas mengecek kondisi korban. Setelah dinyatakan kalau korban sudah tiada, petugas dan warga mengevakuasinya. ****


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.