Desember 4, 2022

Jakarta:  Ketika Indonesia berhasil memukul mundur pasukan Jepang dari wilayahnya, Indonesia pun bergegas memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Meski demikian, Indonesia terus menghadapi berbagai rintangan untuk mempertahankan kemerdekannya.
 
Baik dari perjuangan peperangan hingga perjualan diplomasi dengan pihak kolonial, seperti Belanda.  Dari banyaknya perlawanan yang dihadapi serta perundingan yang berlangung terus-menerus, Indonesia serta Belanda sepakat untuk mengadakan Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949.
 
Penasaran apa saja yang didiskusikan dalam konferensi dan mengapa konferensi ini penting bagi Indonesia? Simak artikel di bawah ini ya!

Apa itu Konferensi Meja Bundar?

Dilansir dari laman Zenius, Konferensi Meja Bundar diadakan pada 1949 di kota Ridderzaal, Den Haag, Belanda. Konferensi yang bersejarah ini menjadi titik penting dalam sejarah Indonesia lantaran konferensi ini mempertemukan antara Indonesia dengan pihak kolonialisnya, Belanda.\


Sehingga, konferensi ini menjadi simbol atas ujung perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kedaulatannya.  Meski berlangung untuk mendiskusikan hubungan antara Indonesia dengan Belanda, konferensi ini berlangusng selama berbulan-bulan, tepatnya dari tanggal 23 Agustus hingga puncaknya pada 2 November 1949.
 
Selain Indonesia dan Belanda, konferensi ini juga dihadiri oleh BFO (Bijeenkomst voor Federale Overleg / Badan Permusyawaratan Federal) dan UNCI (United Nation Commission for Indonesia)

Delegasi-Delegasi yang Ditugaskan Hadir di Konferensi Meja Bundar:

Indonesia:

  1. Drs. Mohammad Hatta, sebagai ketua dalam KMB,
  2. Nir. Moh. Roem, 
  3. Prof. Dr. Mr. Soepomo,
  4. Dr. J. Leimana, 
  5. Mr. Ali Sastroamidjojo,
  6. Ir. Djuanda, 
  7. Dr. Sukiman, 
  8. Mr. Suyono Hadinoto, 
  9. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, 
  10. Mr. Abdul Karim Pringgodigdo,  
  11. T.B. Simatupang, 
  12. Mr. Sumardi

BFO:

Belanda:

UNCI:

Latar Belakang Konferensi Meja Bundar

Lalu, mengapa pada akhirnya Belanda sepakat untuk mengakui kemerdekaan Indonesia? Sebenarnya, Indonesia sendiri sudah beberapa kali mengadakan berbagai pertemuan diplomatis dengan pihak Belanda, seperti Perjanjian Linggarjati (1946), Perjanjian Renville (1948), dan Perjanjian Roem-Royen (1949).
 
Namun, sebagai bentuk penindaklanjutan dan perealisasian Perjanjian Roem-Royen dalam upaya Indonesia melepaskan diri dari kekuasaan Belanda, maka Belanda dan Indonesia – bersama BFO, sepakat untuk mengadakan Perundingan Inter-Indonesia di dua tempat. 
 
Yakni Yogyakarta, 19 Juni 1949 dan Jakarta, 22 Juni 1949. Dari sekian banyaknya perundingan itulah maka akhirnya Belanda sepakat untuk mengakui kemerdekaan Indonesia dengan menginisiasikan KMB.

Topik serta Hasil Konferensi Meja Bundar

Dalam konferensi ini, keempat delegasi KMB mendiskusikan bagaimana Indonesia membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dan BFO serta membahas ketatanegaraan, keuangan negara, dan militer. Setelah berlangsung selama berbulan-bulan, pada tanggal 2 November 1949, keempat delegasi mencapai kesepakatan mereka.

Hasil dari Konferensi Meja Bundar ialah:

  1. Belanda akan mengakui kedaulatan Indonesia sebagai negara RIS (Republik indonesia Serikat) selambat-lambatnya pada akhir Desember 1949 sebagai negara yang merdeka
  2. Permasalahan terkait wilayah Irian Barat akan didiskusikan lebih lanjut paling lama dalam kurun waktu satu tahun setelah pengakuan kedaulatan
  3. Pembentukan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat)
  4. Pembentukan kerja sama  Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai pemimpinnya
  5. Utang kolonial yang dibayarkan Indonesia kepada Belanda akan terhitung sejak tahun 1942.

Wah, ternyata untuk mempertahankan kemerdekaan tidaklah semudah yang kita bayangkan ya, Sobat Medcom. Maka dari itu, untuk menghargai perjuangan para pahlawan Indonesia, kita harus menjadi pemimpin-pemimpin muda yang berprestasi dalam membangun Tanah Air ini menjadi lebih baik. (Gracia Angellica)

 

(CEU)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.