Desember 6, 2022

Bandung: Sekitar 420 mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) mengikuti acara workshop kompetensi pendukung Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) untuk mahasiswa angkatan 2019. Acara ini digelar di Aula Kampus Unpas, Bandung, Jawa Barat (Jabar), pada 13-17 November 2022.
 
Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Rasman Sonjaya mengatakan, SKPI adalah dokumen tambahan di luar ijazah dan transkrip nilai. Jika dulu hanya dibekali dengan ijazah dan transkrip nilai, mulai angkatan 2019, pihaknya akan membekali dengan SKPI.
 
“SKPI itu sendiri adalah penjelasan tentang kondisi objektif mengenai prestasi dan kompetensi yang dimiliki oleh mahasiswa, dengan dokumen itu juga menujukan kesiapan mereka untuk bisa diterima di dunia kerja,” ujar Rasman melalui keterangan tertulis, Rabu, 16 November 2022.


Menurut dia, komponen SKPI adalah prestasi selama mahasiswa kuliah, baik itu kegiatan workshop atau seminar. Termasuk, workshop kompetensi. 
 
Unpas pun pihaknya bermitra dengan empat lembaga yang terpilih, pertama Perhumas. Pihak kampus menggelar junior Public Relation (PR).
 

Kedua, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jabar, menggelar jurnalis praktis. Ketiga, Gema Nusa untuk workshop public speaking dan serta keempat, Chlorine Digital Media untuk Workshop Digital marketing.
 
“Tujannya, kita ingin melaksanakan amanah Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012. Kedua, kita akan melaksanakan amanah Kemenristekdikti Nomor 59 Tahun 2018, bahwa perguruan tinggi harus menerbitkan SKPI,” jelas dia.
 
Dengan bekal SKPI ini, kata dia, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unpas punya keunggulan ketimbang lulusan lain yang belum memiliki SKPI. Sebab, dengan SKPI ini dunia kerja akan memandang sarjana sudah kompeten masuk ke dunia kerja.
 
“Tujuannya adalah kita ingin memberikan nilai lebih kepada lulusan kita, supaya mereka bisa berkompetensi di dunia kerja,” ucap dia.
 
Sementara itu, Wakil Dekan I Kunkunrat mengatakan lewat kegiatan ini ada tiga hal yang dilihat, khususnya bagi masa depan mahasiswa. Pertama, studi lanjut, lalu bekerja di tempat yang dituju, dan berwirausaha.
 
“Studi lanjut itu kan memerlukan tes potensi akademik, di situ ada keterhubungan. Di dunia usaha, dan di dunia kerja, perusahaan, baik itu intstitusi swasta maupun negeri, itu kan melihat kompetensinya, apa tambahannya,” papar Kunkunrat.
 
Dia berharap upaya ini bisa membantu meringankan pemangku kepentingan memilih sumber daya manusia (SDM) sesuai dengan keperluannya.
 
“Untuk itu harapan saya, terus ini dikembangkan menjadi aktivitas yang betul-betul proporsional, menampilkan kompetensi mahasiswa yang sebenarnya. Memang di FISIP Unpas ini yang ditekankan adalah angkatan 2019 ini,” jelas Kunkurat.
 

(AGA)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.