Desember 4, 2022

Berita Surabaya

SURYA.co.id | SURABAYA – Di tahun 2022 ini, tingkat inklusi keuangan di Indonesia telah mencapai 85,10 persen atau lebih tinggi dari 2021 yang mencapai 83,6 persen.

Di tahun 2024, ditargetkan inklusi keuangan bisa meningkat hingga 90 persen.

Beberapa langkah pun dilakukan, termasuk memilih sasaran yang ditarget bisa mendorong peningkatan akselerasi inklusi keuangan tersebut.

“Salah satunya kelompok pemuda dan atau mahasiswa, perempuan, serta pelaku UMKM. Mereka merupakan kelompok sasaran prioritas keuangan inklusif sesuai amanat Perpres No 114 Tahun 2020 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI),” kata Dr Erdiriyo SE MM, Asisten Deputi Keuangan Inklusif dan Keuangan Syariah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, saat tampil dalam kegiatan Seminar Peningkatan Inklusi Keuangan Syariah Bagi pemuda/mahasiswa, perempuan, dan UMKM Provinsi Jawa Timur di kampus B Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Rabu (9/11/2022).

Hal itu tak lepas dari bonus demografi Indonesia yang saat ini mayoritas gen Z dan milenial atau gen Y, jumlahnya cukup besar.

Mencapai 64,50 persen dari total 270,20 juta penduduk Indonesia.

Selanjutnya, dalam pemaparannya, Erdiriyo menyatakan perlunya kolaborasi yang intens untuk mendorong inklusi keuangan syariah.

“Pemerintah melalui Sekretariat Dewan DNKI terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan Kementerian dan atau Lembaga terkait serta para pemangku kepentingan seperti Lembaga Keuangan Syariah dan Perguruan Tinggi untuk mencapai target inklusi keuangan 90 persen di tahun 2024,” ungkapnya.

Sekretariat DNKI terus meningkatkan kerjasama secara intensif dengan Perguruan Tinggi dan Pelaku UMKM untuk peningkatan inklusi keuangan berupa Edukasi/Sosialisasi sehingga mereka dapat berpartisipasi pada program seperti Simpel iB, Laku Pandai, serta pembiayaan UMKM.

Dalam hal pengembangan UMKM, pada tahun 2022 Pemerintah mengalokasikan Kredit Usaha Rakyat dan KUR Syariah dengan plafond sebesar Rp 373,17 triliun.

“Pembiayaan KUR Syariah yang salah satunya disalurkan oleh Pegadaian Syariah kepada wirausaha baru bertujuan membantu pengusaha pemula untuk mengembangkan usahanya pada tahap awal hingga dapat ‘naik kelas’ seiring berkembangnya usaha,” jelas Ediriyo.

Sebagai implementasi dari Kegiatan Keuangan Syariah Goes to Campus, juga dilaksanakan acara simbolis berupa Penyaluran KUR Mikro dan Tabungan Emas oleh Pegadaian Syariah kepada Pelaku UMKM di Provinsi Jawa Timur serta penandatanganan MoU antara Pegadaian Syariah dengan UMKM Binaan Unair.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, menyambut baik acara seminar Peningkatan Akses Keuangan Syariah dengan sasaran Pemuda/Mahasiswa, Perempuan, dan Pelaku UMKM tersebut.

“Semoga kegiatan ini dapat berkontribusi pada peningkatan kapasitas kewirausahaan di Jawa Timur,” kata Emil.

Karena diakuinya, para pemuda /mahasiswa, perempuan dan pelaku UMKM ini berpotensi meningkatkan jumlah kewirausahaan di Jatim.

Mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kapasitas, kemampuan, dan kelas usahanya melalui inklusi keuangan yang lebih masif.


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.