Desember 6, 2022

Perlis: Mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad kehilangan kursinya di parlemen Malaysia,  setelah penduduk Langkawi pada Sabtu 19 November 2022 memilih untuk menempatkan Perikatan Nasional (PN) mengendalikan konstituensi pulau tersebut.
 
Ini adalah kekalahan pertama politikus berusia 97 tahun itu dalam pemilihan parlemen Malaysia sejak dia kalah pada 1969.
 
Kursi Langkawi dimenangkan oleh Datuk Suhaimi Abdullah dari PN, dengan 25.463 suara, atau 38,1 persen suara, pada Sabtu.
 
“Tun Dr Mahathir berhasil mengumpulkan hanya 4.566 suara, atau 6,8 persen – kurang dari ambang batas suara 12,5 persen yang diperlukan untuk mempertahankan depositnya sebagai kandidat,” laporan The Straits Times, Minggu 20 November 2022.
 
“Armishah Siraj dari Barisan Nasional (BN) berada di urutan kedua dengan 11.945 suara atau 17,9 persen suara sah. Datuk Armishah adalah anggota cabang Kampung Kuah Umno di Langkawi dan akrab dengan isu-isu di lapangan,” imbuh laporan itu.
 
Sebagai perbandingan, Dr Mahathir memenangkan 54,9 persen dari 34.527 suara sah dalam Pemilu 2018, mengalahkan BN dengan 29,1 persen.
 
Kekalahan Dr Mahathir terjadi meskipun apresiasi luas atas kontribusinya di Langkawi. Dia dihormati secara luas karena membawa kemakmuran dan pembangunan ke pulau itu dengan menyatakannya sebagai surga bebas pajak pada tahun 1987, ketika dia menjadi perdana menteri Malaysia. Langkah tersebut menarik banyak investasi pariwisata, termasuk bandara internasional, layanan feri, dan hotel mewah.
 
Kekalahan ini merupakan pukulan terakhir bagi Parti Pejuang Tanah Air (Pejuang) yang dipimpin oleh Dr Mahathir.  Wilayah ini yang memperebutkan total 121 kursi parlemen, 13 di antaranya berada di Kedah.
 
Kedah, yang meliputi Langkawi, juga merupakan negara bagian asal Dr Mahathir.
 
Pemilih tidak yakin dengan janji Dr Mahathir untuk memperbaiki ekonomi negara dan mengembalikan investasi dan pekerjaan asing dengan memberantas korupsi di dalam pemerintahan dan membersihkan sekitar RM42 miliar utang nasional yang ditumpuk oleh mantan perdana menteri Najib Razak.
 
Ada juga pemilih yang kecewa dengan kepemimpinan Dr Mahathir setelah dia mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada tahun 2020 dan gagal menyerahkan kendali pemerintahan kepada Datuk Seri Anwar Ibrahim seperti yang dijanjikan.
 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id.
 

(FJR)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.