Desember 8, 2022

SURYA.CO.ID, LAMONGAN – Limbah cair yang diduga kuat berasal dari perusahaan baja di Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan sampai saat ini belum bisa dihentikan. Bahkan para petani di wilayah itu mengeluhkan bahwa pencemaran tersebut telah mematikan areal tanaman padi membunuh ikan-ikan di saluran teknis yang mengalir ke arah waduk, Rabu (16/11/2022).

Dugaan pencemaran air di saluran irigasi itu telah memasuki area persawahan Desa Brengkok, Kecamatan Brondong dan tidak juga menemukan solusi. Bocoran limbah cair dari perusahaan di Selatan jalan Daendels masih terus mengucur ke jaringan irigasi hingga ke waduk di sisi Utara jalan.

Limbah cair berwarna oranye kecoklatan serta berbau itu tidak hanya menyebabkan tanaman padi mati, tetapi juga mengotori sepanjang plengsengan irigasi yang terlihat dari karat yang menempel. Akibatnya, para petani kini enggan memanfaatkan air waduk untuk mengairi sawahnya, karena tercemar limbah cair dari pabrik baja, BIP.

Peesemaian padi milik Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) yang ditabur di sisi Utara, separo di antaranya tidak tumbuh. “Ini mati semua, sedangkan biji gabah untuk pesemaian yang sudah kami tanam juga mati, ” kata Siskan, salah satu pengurus Jatam kepada SURYA, Rabu (16/11/2022).

Limbah pabrik itu bahkan meluas ke lahan pertanian yang ada di bagian hilir. Jika terus meluas maka tidak menutup kemungkinan membuat tanaman padi akan mati semua. Limbah yang mengalir ke irigasi teknis itu di bagian hilir masuk ke waduk dan membuat banyak ikan mati.

Para petani mengkhawatirkan air waduk turut tercemar. “Untuk sementara sebagian petani enggan mengalirkan air yang bersumber dari waduk. Takut tanaman padinya mati, ” katanya.

Padahal waduk itu diandalkan oleh petani untuk mengairi sekitar 20 hektare lahan padi di sekitar waduk. Para petani berharap pihak perusahaan segera mengambil solusi agar limbah tidak sampai masuk ke irigasi pertanian. “Lihat saja, padi tiba-tiba mengering dan mati, ” kata Musa Kubowono, seorang petani yang ikut merawat lahan Jatam.

Sementara petani berharap turun hujan untuk mengairi sawah mereka. Mereka tidak berani memaksakan menggunakan air waduk. “Takut menanggung rugi kalau sampai tanaman padi mati, ” ujarnya.

Saat hujan turun dan saluran irigasi terisi air hujan, limbah yang keluar dari pipa yang terpasang di saluran irigasi tersebut meluber dan meluas memenuhi lahan sawah di kanan kiri saluran irigasi. Pihak perusahaan baru melakukan upaya membersihkan buih di permukaan limbah cair yang mengalir di irigasi pertanian.

Perusahaan mempekerjakan lima orang untuk membersihkan buih air limbah dengan menggunakan ember, kemudian dipindahkan drum diangkut menggunakan motor roda tiga. “Buih limbah dibawa masuk ke pabrik, ” kata seorang pekerja.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sudah turun untuk melakukan penanganan munculnya limbah cair yang mencemari lingkungan dan lahan pertanian. “Mengarah ke salah satu pabrik baja, BIP,” kata Camat Brondong, Ni’am.

Dan belakangan, polisi pun turun tangan. Kasatreskrim Polres Lamongan, AKP Komang Yogi Arya Wiguna mengatakan, pihaknya sudah melakukan olah TKP. Kini pihaknya memeriksa kelengkapan administrasi yang dipunyai perusahaan. “Kalaupun memiliki kelengkapan administrasi, kelengkapan administrasi yang bagaimana, ” kata Komang.

Pihaknya juga menggandeng Dinas Lingkungan Hidup Provinsi untuk memeriksa sampel limbah yang diduga mencemari sawah. Menurut keterangan pemilik lahan, lingkungan memang terganggu, ada tanaman padi mati dan tidak bisa tumbuh. “Tetapi perlu ada kajian yang mendalam secara teknis bagaimana pengaruh limbah tersebut, ” ungkap Komang.

Pihaknya akan memeriksa pihak terkait, yaitu pemilik lahan dan pihak perusahaan. “Sementara sudah ada dua saksi yang sudah dimintai keterangan, ” tambahnya.

Komang memastikan akan mengembangkan ke segala aspek, terutama bagaimana tata pengelolaan limbahnya. Dan ini sedang didalami, apakah limbah itu langsung mencemari lingkungan atau bagaimana. Komang menjanjikan menginformasikan hasilnya beberapa hari kemudian.

Sementara pihak perushaan tidak bersedia menerima wartawan yang berusaha mendapatkan konfirmasi. “Tidak bisa menerima, tidak bersedia. Saya hanya menyampaikan saja, ” kata seorang satpam perusahan yang merahasiakan namanya. ****


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.