Desember 6, 2022

Jakarta: Pengamat ekonomi lingkungan IPB University, Aceng Hidayat, menilai positif upaya Pertamina dalam pengembangan kawasan industri hijau atau green industry cluster. Menurut Aceng, kawasan industri hijau berperan penting mendorong dekarbonisasi.
 
“Itu bagus karena kesadaran dari pihak industri untuk mengurangi high emison (tinggi karbon) dengan cara perbaikan proses. Hal ini menghasilkan rendah emisi (low emision) karbon. Kita sambut baik hal tersebut,” kata Aceng, melalui keterangan tertulis, Selasa, 22 November 2022. 
 
Aceng menjelaskan banyak faktor yang mempengaruhi emisi karbon pada kawasan industri. Salah satu faktor adalah input. 


“Jika inputnya menggunakan bahan boros energi, maka akan menghasilkan karbon yang tinggi. Begitu pula sebaliknya,” kata Aceng.
 
Faktor lain adalah proses. Jika prosesnya menggunakan teknologi ramah lingkungan, maka otomatis akan menghasilkan output yang juga ramah lingkungan dan rendah karbon. 
 
Aceng mencontohkan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pemakaian PLTS pada kawasan industri merupakan salah satu langkah untuk mengurangi karbon. 
 
“Karena inputnya yaitu tenaga surya, kemudian diproses dan simpan dalam suatu baterai lalu digunakan. Selain itu, prosesnya juga ramah lingkungan. Jadi, penggunaan PLTS termasuk salah satu langkah pengurangan emisi karbon,” kata Aceng.
 
Menurut Aceng, penggunaan PLTS berbeda dengan batu bara yang inputnya mengandung karbon. Dalam hal ini, harus melalui proses penghilangan karbon sebanyak mungkin.
 
“Jadi input-nya kotor, lalu melalui proses pembersihan, baru bisa menghasilkan energi bersih. Ini berbeda dengan matahari, yang inputnya sendiri sudah bersih lalu diproses dan bisa menghasilkan energi terbarukan (EBT),” kata Aceng.
 
Aceng menambahkan bahwa pengurangan karbon bisa dengan reuse, reduce, dan recycle atau sirkular ekonomi. Baik secara mikro ataupun makro. “Sehingga jika suatu industri tidak menerapkan sirkular ekonomi maka pemborosan yang akan terjadi,” kata Aceng.
 
Menurut Aeng, pemborosan terjadi karena faktor efisiensi. Jika tidak efisien, maka industri akan menghasilkan pemborosan atau banyak yang terbuang sia-sia. Padahal, jika tidak memanfaatkan yang tersisa maka tidak bisa memanfaatkan nilai ekonomi.
 
“Sebab yang tersisa bukan berarti sia-sia. Boros adalah ketika melihat sisa sebagai sampah, padahal tidak seperti itu. Intinya, yaitu mengurangi pembuangan dan yang kedua yakni memanfaatkan sisa,” kata Aceng.
 
Baca: Kawasan Industri Jababeka Jadi Klaster Industri Net Zero Pertama di Asia Tenggara
 
Pertamina saat ini tengah mengembangkan kawasan industri hijau atau green industry cluster. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen Pertamina terhadap Peta Jalan Net Zero Emission (NZE) dalam mencapai target nol emisi karbon pada 2060.
 
Salah satunya adalah kerja sama antara Pertamina Power Indonesia dengan PT Jababeka Infrastruktur dalam mengembangkan kawasan industri hijau Jababeka. Tahap awal yang dilakukan adalah memasang panel untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. 
 
Kawasan Industri Jababeka adalah kompleks industri untuk manufaktur dan operasi lain. Di dalamnya terdapat lebih dari 2.000 perusahaan dari 30 negara.
 
Klaster industri baru ini membawa pendekatan multipemangku kepentingan yang terkoordinasi untuk mencapai dekarbonisasi industri. Beberapa perusahaan yang berkolaborasi menciptakan klaster net zero pertama di Asia Tenggara tersebut. Antara lain Hitachi, Unilever, dan L’Oréal.

 

(UWA)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.