Desember 6, 2022

Tepat pada 8 tahun lalu atau pada 2014 Indonesia dinyatakan bebas Polio. Sebuah pencapaian yang menggembirakan melihat anak-anak di Tanah Air terbebas dari penyakit tersebut. Kini setelah 8 tahun berlalu, Indonesia tak lagi bebas Polio.

Kabar buruk itu tak lepas dari ditetapkannya status Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio, oleh Kementerian Kesehatan, usai ditemukan satu kasus di Kabupaten Pidie, Aceh. Ya, satu kasus sudah mengubah predikat yang diemban Indonesia selama delapan tahun ke belakang.

Penetapan itu diutarakan Maxie Rein Rondonuwu selaku Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian (P2P). Menurutnya, kasus tersebut menimpa anak berusia 7 tahun 2 bulan. Anak berinisial A tersebut mengalami gejala kelumpuhan pada kaki kirinya.

Diawali pada 6 Oktober 2022, sang anak mulai merasakan sakit. Tiga hari sebelumnya, yaitu pada 9 Oktober mulai onset lumpuh dan pada 18 Oktober masuk RSUD TCD Sigli.

Setidaknya ada 2 Spesimen yang diambil dari anak tersebut pada 21-22 Oktober dan 3 hari kemudian dikirim ke Provinsi, hingga sampai ke Jakarta pada 27 Oktober 2022.

Singkat cerita, pada 10 November hasil skuensing menunjukkan bahwa sang anak positif polio tipe 2. Dengan gejala yang diderita yaitu terjadi pengecilan pada otot paha dan betis kiri, lantaran tidak memiliki riwayat imunisasi.

Kemenkes menyatakan, Polio ditularkan melalui lingkungan yang tercemar tinja dan mengandung virus polio. Hasil observasi lingkungan sekitar pasien, didapati Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang masih kurang.

Seperti masih ada penduduk yang menerapkan BAB terbuka (di sungai), meskipun tersedia toilet, lubang pembuangan langsung mengalir ke sungai. Tak hanya itu, air sungai ternyata dipakai sebagai sumber aktivitas penduduk, termasuk tempat bermain anak-anak.

Meski hanya satu kasus yang ditemukan, status Kejadian Luar Biasa tetap diterapkan. Pasalnya, Indonesia telah mempunyai Sertifikat Bebas Polio pada 2014. Sementara pada 2015, virus polio liar tipe 2 sudah dinyatakan eradikasi pada 2015. Sedangkan tipe 3 telah eradikasi pada 2019.

“Dikatakan Kejadian Luar Biasa karena kita sudah eradikasi, jadi kalau ada satu kasus virus polio yang muncul apalagi ini tipe 2, sudah dianggap enggak ada lagi,” ucap Maxi saat konferensi pers secara daring, Sabtu 19 November 2022.

Merespons KLB ini, Kemenkes telah melakukan beberapa upaya sejak 8 November hingga hari ini 19 November 2022. Diawali notifikasi dan investigasi menyeluruh pada kasus dan lingkungan yang dilakukan P2P, hingga konsultasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam skala nasional, Kemenkes berencana menanggulangi KLB Polio ini dengan meningkatkan cakupan imunisasi rutin, terutama untuk cakupan vaksinasi Inactive Polio Vaccine (IPV), dan untuk Oral Polio Vaccine (OPV).

Kemudian upaya penemuan kasus Lumpuh Layuh Akut di tingkat fasyankes dan masyarakat. Terutama anak di bawah usia 15 tahun. Kemenkes juga memantau dan mengintensifikan pelaksanaan polio lingkungan.

“Kami juga kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi dan mendukung upaya surveilans,” ujar Maxie Rein Rondonuwu selaku Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian (P2P).

Lantaran kasus yang ditemukan di Kabupaten Pidie, Aceh, Kemenkes juga akan melakukan pelaksanaan imunisasi massal. Rencananya akan dimulai pada 28 November 2022.
(FIR)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.