November 30, 2022

SURYA.CO.ID, KOTA KEDIRI – Pemkot Kediri membuat Inovasi untuk memperbaiki sektor pelayanan kesehatan masyarakat, terutama ibu hamil dan anak. Kali ini pemkot menurunkan PAPI ASIK yang bisa mengecek kondisi ibu hamil sesuai data yang dipantau secara real time.

PAPI ASIK ini adalah kepanjangan dari Program Pemantauan Ibu, Anak dan Siklus Kehidupan, yang diresmikan oleh Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar di Ballroom Hotel Lotus Garden, Rabu (16/11/2022).

Para kegiatan yang sama juga diperkenalkan sosialisasi Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Acara ini menghadirkan dua narasumber. Untuk aplikasi PAPI ASIK, dr Danu Maryoto, Sp.OG (K) dan Sosialisasi SHK disampaikan dr Renita Damayani Sp.A.

Kegiatan ini diikuti 135 orang dari kader Posyandu, Puskesmas, dan rumah sakit di Kota Kediri serta dihadiri perwakilan Kepala OPD terkait. Wali kota menjelaskan, aplikasi PAPI ASIK melayani seluruh warga di Kota Kediri yakni para ibu hamil.

“Kita bisa ngecek dari aplikasi ini, ibu hamil mana yang tidak berisiko, beresiko tinggi, dan sangat tinggi. Jadi kita punya data yang valid ibu hamil mana yang beresiko,” ungkapnya.

Dijelaskan, selama ini data pelayanan kesehatan ibu dan anak dikelola secara manual dan terpisah. Tentu rawan terjadi kehilangan data serta dalam melakukan pelacakan dan pencarian data membutuhkan waktu yang lama.

Melalui aplikasi PAPI ASIK data akan lebih valid, terintegrasi dan real time. Data tersebut digunakan Pemkot Kediri untuk melakukan intervensi. Sebab ibu hamil beresiko tinggi harus tertangani dengan baik untuk menekan angka kematian ibu dan bayi.

“Ibu hamil beresiko tinggi kalau tidak tertangani dengan baik dekat dengan kematian. Asyiknya, aplikasi ini memberikan data yang valid sehingga kita bisa tahu penanganan apa yang harus segera kita lakukan. Jadi ibaratnya kalau kita mau intervensi pakai program tepat sasaran,” terang Abu Bakar.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr Fauzan Adima menambahkan, aplikasi PAPI ASIK digunakan oleh kader posyandu dan masyarakat Kota Kediri. Tahun ini ada sekitar 4.000 ibu hamil dan 20 persennya beresiko tinggi.

Nanti ketika data sudah terinput di aplikasi PAPI ASIK akan ada warning sistem ke Puskesmas apabila ibu hamil mendekati waktu persalinan. Sementara untuk SHK merupakan program dari Kementerian Kesehatan. SHK dilakukan pada bayi baru lahir dalam kurun waktu 48 hingga 72 jam.

Bayi baru lahir akan diambil darah 2 hingga 3 tetes untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Nantinya bisa dideteksi apakah bayi menderita penyakit konginetal atau beresiko terkena penyakit konginetal.

“Harapannya semua masyarakat bisa teredukasi dengan baik mengenai aplikasi PAPI ASIK dan SHK ini. Nantinya bisa terbentuk sumber daya manusia di Kota Kediri yang berkualitas,” harapnya. *****


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.