Desember 5, 2022

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) menyampaikan Pileg dan Pilpres semestinya memang harus menjadi ajang pesta demokrasi. NU Jatim berharap jangan sampai ada politisasi agama termasuk praktik politik uang.

Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Abdussalam Shohib mengaku sependapat dengan pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo. Terbaru, kepala negara berharap capres/cawapres yang akan maju Pilpres tidak melakukan politisasi agama, melainkan fokus pada ide dan gagasan.

“Saya kira itu sudah sangat tepat,” kata Gus Salam, sapaan akrab KH Abdussalam Shohib dikonfirmasi, Senin (21/11/2022).

Menurut Gus Salam, NU juga menginginkan agar pesta demokrasi berjalan efektif sebagaimana harapan bersama. Pileg dan Pilpres serta ajang kontestasi lain harus menggembirakan rakyat tidak memecah belah. Termasuk bagi kontestan, harus mengedepankan ide dan gagasan.

“Jangan malah membuat permusuhan dan perselisihan,” tambah Gus Salam.

Di sisi lain, PWNU Jatim juga mengajak seluruh pihak baik politisi, tokoh dan masyarakat harus membiasakan kedewasaan bahwa perbedaan politik sebagai sebuah harmoni.

Di samping itu, juga berharap agar ada keseriusan dari pemerintah dan penyelenggara negara agar serius dalam menekan politik uang.

“(Tujuannya) Agar demokrasi kita semakin berkualitas,” pungkas Gus Salam.

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo meminta para calon presiden dan para calon wakil presiden yang akan maju pada pilpres 2024 tidak melakukan politisasi agama. Dia meminta agar perdebatan para capres dan cawapres nantinya berupa ide dan gagasan yang membangun bangsa.

Ini disampaikan Jokowi saat memberikan sambutan pada Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) 2022 yang digelar di Solo, Senin (21/11/2022).

“Inilah yang sekali lagi saya ingatkan kepada para capres dan cawapres, untuk membawa suasana politik kita menuju 2024 itu betul-betul paling banter anget dikit, syukur bisa adem,” kata Jokowi dikutip dari Kompas.com

Jokowi mengatakan, perdebatan harus dengan gagasan serta ide membawa negara lebih baik.

“Tapi jangan sampai panas. Apalagi membawa politik-politik SARA. Tidak, jangan. Politisasi agama, tidak, jangan. Setuju? Politisasi agama jangan. Jangan,” tegasnya.

Kepala negara mengingatkan politisasi agama bisa membawa dampak negatif. Dampak tersebut juga telah dirasakan masyarakat dalam waktu lama. Sehingga, Jokowi menegaskan agar politisasi agama serta SARA sebaiknya dihindari.

“Lakukan politik gagasan, politik ide. Tapi jangan masuk ke politik SARA, politisasi agama, politik identitas jangan. Sangat berbahaya bagi negara sebesar Indonesia yang sangat beragam,” ucap Jokowi.

 


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.