Desember 4, 2022

Jakarta: Pakar bisnis Rhenald Kasali menjelaskan, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tak ada hubungannya dengan resesi ekonomi global.
 
“Ancaman resesi global yang terus didengungkan, kalau dipercaya, bisa menimbulkan resesi sungguhan. Eksekutif yang kurang piawai bisa gegabah melakukan pemotongan besar-besaran, dan nanti bisa sebaliknya, menimbulkan distrust dan penurunan kinerja,” ungkap Rhenald dalam pernyataannya, Jumat, 18 November 2022.
 
Rhenald menyayangkan pernyataan sejumlah pihak yang gegabah menyebarluaskan ketakutan resesi yang seakan-akan sudah di depan mata.


“Padahal, ‘sesuatu’ itu belum terjadi, tapi kita sudah dipaksa mempercayainya dan seakan sudah merasakannya. Itu namanya trust recession, bukan economic recession,” tambahnya.
 
GOTO pangkas 1.300 karyawan
 
Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), GOTO melakukan perampingan dengan melakukan penyesuaian jumlah karyawan. Sekitar 1.300 karyawan akan mengalami PHK.
 
Rhenald sebenarnya tak setuju isu PHK dikaitkan dengan dampak ekonomi dari resesi. Meskipun para pemilik bisnis kini sedang ‘tiarap’. Walaupun alasan utamanya masih simpang siur.
 
“Untuk membuat publik percaya ada pihak yang mengaitkan dampak ekonomi dari resesi akibat pandemi yang lalu dengan resesi tahun depan yang konon sudah dirasakan di Jawa Barat. Dikabarkan, katanya, sudah ribuan pekerja tekstil, garmen, dan alas kaki yang tujuannya ekspor terdampak PHK,” terangnya.
 
Lebih lanjut ia menjelaskan, resesi ada dua macam, yakni Economic Recession seperti yang dialami Inggris dan Trust Recession yang sekarang dipaksakan masuk ke dalam otak manusia bahwa seakan-akan resesi terjadi.
 
Economic Recession adalah terminologi makro, yang ditandai dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi (negatif), dua kuartal berturut-turut,” papar dia.
 
Rhenald menjelaskan, dalam ekonomi makro, resesi bukanlah sebuah aib. Resesi merupakan bagian alami pergerakan ekonomi yang bersifat dinamis. Kadang perekonomian itu naik, kadang turun.
 
“Yang penting, saat turun lakukan langkah-langkah preskriptif secara disiplin. Lagipula kalaupun resesi, dunia tak akan resesi selamanya, kecuali mereka terlibat dalam konflik (perang) secara berkelanjutan,” tambah pendiri Rumah Perubahan ini.
 

 
Yang ramai diperbincangkan saat ini, tambahnya, adalah Trust Recession, semacam quasi recession atau resesi semu/palsu.
 
“Ini adalah sebuah gejala psikologis yang datang dari rasa cemas atau takut yang berlebihan (dari orang yang menarasikan atau yang menyebarluaskan). Kadang gejala ini juga disebut sebagai the negativity bias. Belum lagi resesinya datang, tapi bayangan gelapnya sudah disambut, dipeluk, dan dipamerkan sebagai hantu hitam yang ‘keren’,” urai Rhenald.
 
“Kalau masyarakat kadung percaya dan ketakutan, maka pengusaha akan melakukan deep cut (memotong anggaran, menutup usaha, menghentikan investasi, ekspansi atau berpromosi, melakukan penghematan, PHK, mengurangi stok, bahkan malas melakukan apa-apa). Dan akhirnya bukan saja resesi, melainkan terjadi stagnasi dan depresi,” imbuhnya.
 
Kalau benar GOTO terdampak gejolak ekonomi global, tegas Rhenald, tentu kinerjanya buruk dan bahkan merugi. Namun faktanya, pada akhir kuartal kedua 2022, perusahaan berhasil melakukan penghematan biaya struktural sebesar Rp800 miliar.
 
“Pascapandemi orang tak segencar berbelanja online seperti sebelumnya, itu bisa saja terjadi. Tapi GOTO punya kekuatan ekosistem keuangan yang solid, mulai dari Midtrans sampai Moka yang menjamin solusi Online-Offline (O2O),” ucap Rhenald.
 
Rhenald menekankan, yang perlu diwaspadai sebenarnya bukan dampak resesi, tetapi dampak disrupsi yang akan menghilangkan sekitar 40 persen lapangan kerja menyusul kemajuan robotisasi, sehingga biaya robot telah turun 65 persen dalam 10 tahun belakangan ini. Sementara biaya upah manusia rata-rata naik 8,5 persen per tahun.
 
“Dampak pengurangan SDM secara permanen akibat disrupsi digital ini sudah harus kita antisipasi mulai dari sekarang. Perhatikan, dulu setiap satu persen pertumbuhan ekonomi bisa menciptakan sekitar 200 ribu lapangan kerja. Ke depan, paling tinggi sekitar 90 ribu. Perusahaan juga harus disadarkan keinginan bekerja full time generasi Z sudah di bawah 50 persen,” tutup Rhenald.
 
*Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id*
 

(HUS)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.