Desember 4, 2022

SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Stigma sapi cacat dan harga jual anjlok karena kuping berlubang setelah dipasang ear tag alias anting berkode, mengiringi langkah Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan membuat Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan memutar otak lebih keras.

Kondisi ini sempat membuat Bangkalan mengalami kesulitan untuk beranjak dari papan klasemen Realisasi Pelaksanaan Penandaan dan Pendataan Hewan Kabupaten/Kota di Jawa Timur.

Dengan populasi sapi melimpah, Bangkalan menjadi salah satu kabupaten sebagai tulang punggung pemasok daging sapi Jawa Timur. Populasi sapi Bangkalan terus meningkat dalam setiap tahunnya.

Data yang dihimpun SURYA dari Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan hingga tahun 2021, populasi sapi tercatat mencapai 276.476 ekor. Tahun 2020 populasi sapi berada pada kisaran 259.923 ekor dan sebanyak 247.437 ekor di tahun 2019.

Dengan populasi sebanyak itu, penandaan dan pendataan melalui eartag menjadi fokus Dinas Peternakan Bangkalan. Lebih-lebih Bangkalan sempat menjadi zona merah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dengan ribuan sapi terpapar.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan, Ahmat Hafid mengungkapkan, awalnya pemberian ear tag memunculkan mindset negatif di benak para pemilik sapi dan pedagang sapi di pasar-pasar hewan.

“Dikesankan sapi cacat ketika kuping berlubang, akhirnya para pembeli di pasar menurunkan harga. Hal seperti itu tidaklah arif karena hanya lubang pada kuping tidak ada hubungannya dengan kualitas daging maupun kesehatan sapi,” ungkapnya kepada SURYA, Minggu (20/11/2022).

Kondisi itu menjadi persoalan serius bagi Dinas Peternakan Bangkalan. Capaian Realisasi Pelaksanaan Penandaan dan Pendataan Hewan Kabupaten/Kota di Jawa Timur periode Juni-September 2022 hanya mencatat sejumlah 35 ekor sapi dari total target 2.200 ekor. Capaian itu menjadikan Bangkalan berada di urutan keempat dari bawah.

Hafit menjelaskan, saat itu tantangan pemberian ear tag dirasakan memang berat karena peternak dan pedagang sudah melabeli negatif. Tetapi pelahan pihaknya melakukan door to door bersama unsur muspika untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada para kelompok terkait keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh dengan dilakukannya ear tag.

“Apalagi sekarang kondisi pelubangan dilakukan lebih rapi, malah banyak keuntungannya. Jadi mindset negatif itu yang kami rubah. Bagaimana sapi aman dari PMK, sehat, sudah divaksin, mudah dilalulintaskan, kemudian juga mudah di pelayaran hewannya,” jelasnya.

Sekedar diketahui, ear tag sapi adalah tanda yang dipasang di telinga sapi sebagai pengenal yang dilengkapi dengan data-data sapi. Baik berupa nomor atau disertakan pula nama pembelinya.

Nomor tersebut akan diinput ke dalam sistem komputer dan berisi data-data sapi dengan ear tag. Data informasi yang diinput di antaranya meliputi asal-usul sapi, tanggal kedatangan, hingga bobot awal.

Sosialisasi secara masif ke pasar-pasar hewan hingga ke pelosok desa yang digelorakan Dinas Peternakan Bangkalan bersama unsur muspika pun membuahkan hasil. Hingga 20 November 2022, Bangkalan merangsek naik ke urutan 18 dengan realisasi pemberian ear tag telah mencapai 8.578 ekor sapi; 3.616 ekor sapi jantan dan 4.963 ekor sapi betina.

Hafid menambahkan, keuntungan ear tag bagi para peternak dan pedagang sapi yakni bisa mendeteksi legalitas kepemilikan ternak, mendeteksi kelengkapan vaksinasi, sehingga mempermudah lalu lintas hewan ternak karena sapi dengan ear tag bisa dijual ke luar

“Penjualan sapi ke luar pulau sekarang wajib ear tag. Kemudahan berikutnya adalah mendapatkan pelayanan hewan secara gratis. Baik itu program SI KOMANDAN yang terdiri dari PKB kemudian IB, ATL dan lain sebagainya. Sapi sehat, untung berlipat,” pungkas Hafit. ****

 

 


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.