Desember 5, 2022

Moskow: Kremlin menyebut deklarasi akhir KTT G20 yang baru-baru ini disimpulkan di Indonesia sebagai ‘kemenangan akal sehat’. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, G20 bisa saja berakhir tanpa deklarasi akhir untuk pertama kalinya dalam sejarah, tetapi ‘agresivitas buta Barat dinetralkan’ dan kompromi tercapai.
 
Peskov menambahkan, Rusia berencana untuk melanjutkan pekerjaannya dengan G20, dan menyebutnya sebagai platform paling efektif untuk memecahkan masalah global yang ada.
 
Di akhir KTT, G20 mengeluarkan deklarasi akhir, yang mengatakan, sebagian besar anggota mengutuk perang di Ukraina dan menekankan itu menyebabkan penderitaan manusia yang luar biasa dan memperburuk kerentanan yang ada dalam ekonomi global.


“Ada pandangan lain dan penilaian yang berbeda tentang situasi dan sanksi. Menyadari bahwa G20 bukanlah forum untuk menyelesaikan masalah keamanan, kami mengakui bahwa masalah keamanan dapat memiliki konsekuensi signifikan bagi ekonomi global,” ucap Peskov, dikutip dari Anadolu Agency, Jumat, 18 November 2022.
 
Mengomentari pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk mengadakan pembicaraan damai dengan Rusia secara terbuka, Peskov mengatakan tidak ada yang namanya pembicaraan publik.
 
“Sulit membayangkan pembicaraan publik. Tidak ada pembicaraan publik, terutama pembicaraan publik di area seperti itu. Tetapi satu hal yang tegas, pihak Ukraina tidak menginginkan pembicaraan apa pun operasi militer khusus berlanjut, tujuannya  harus dicapai,” kata Peskov.
 
Baca juga: Kremlin Puji Tanggapan Terukur AS Terkait Insiden Rudal Polandia
 
“Setiap pembicaraan memiliki tujuan. Tujuan kami diketahui dengan baik, dan tujuan ini dapat dicapai baik melalui operasi militer khusus atau melalui negosiasi. Rusia terbuka untuk keduanya (opsi),” tegasnya.
 
Tentang seruan AS untuk negosiasi damai antara Moskow dan Kiev, Peskov mengatakan Washington dapat mendukung kata-katanya dengan perbuatan, dan, memiliki pengaruh pada Ukraina, membuatnya “lebih bisa dinegosiasikan.”
 
Ditanya apakah Moskow mempertimbangkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir, Peskov mengatakan, “Dari pihak Rusia tidak ada yang merenungkan atau merenungkan topik ini. Topik ini dibahas di ibu kota Eropa, sehingga meningkatkan ketegangan di bidang yang sepenuhnya tidak dapat diterima, tidak dapat diterima, dan berpotensi berbahaya.”
 
Terkait perpanjangan tidak terbatas dari kesepakatan biji-bijian Istanbul, yang telah diperbarui selama 120 hari, Peskov mengatakan tidak ada opsi seperti itu di meja.
 
Ia menuturkan, Rusia pada akhirnya bertanggung jawab atas pendaratan rudal di desa Przewodow Polandia yang menewaskan dua orang dan memicu kekhawatiran eskalasi sejak memulai kampanye militernya, Peskov mengatakan dengan logika itu AS dan NATO yang harus disalahkan karena telah mengambil  mempertimbangkan masalah keamanan Rusia, Moskow tidak akan memulai operasi pada bulan Februari.
 
“Jika AS dan NATO telah menghentikan rezim Kiev, dengan jaminan bahwa mereka (Ukraina) tidak akan menyerang penduduk di dua republik independen dengan artileri berat dan tank, tidak akan diperlukan operasi militer khusus,” pungkasnya.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id.
 

(FJR)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.