Desember 5, 2022

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Modal sosial di kawasan IKN (Ibu Kota Negara) perlu terus dipertahankan. Meliputi kepercayaan masyarakat, kuatnya jaringan dan solidaritas, kuatnya peranan Tokoh Adat, pelestarian objek pemajuan kebudayaan, dan penguatan nilai dan norma adat.

“Modalitas ini menjadi basis untuk melestarikan budaya sekaligus menjaga eksistensi masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang,” kata Raden Wijaya Kusumawardhana, Asisten Deputi Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah, Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Hal itu disampaikan Raden Wijaya, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Forum Ilmiah Nusantara (FIN) Seri I dengan tema “Strategi Penguatan dan Pemerataan Daya Saing Sumber Daya Manusia (SDM) Kalimantan Timur untuk Nusantara”, yang digelar di Leedon Hotel and Suites, Surabaya, Rabu (9/11/2022).

Kebijakan pemerintah dalam pembangunan IKN Nusantara harus mengakomodir aspek budaya dan sosial di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kertanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Pemerintah Daerah masih belum memahami peran dan tanggungjawab dalam upaya mendukung pembangunan IKN.

Kebijakan pemerintah dalam Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Ibu Kota Nusantara Tahun 2022-2042 belum secara spesifik mengatur tentang pengembangan potensi budaya.

“Oleh karena itu, perlu percepatan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang di dalamnya memuat potensi, isu, dan permasalahan sosial dan budaya tentang kearifan lokal (budaya ladang berpindah, sumber mata air, dan produk budaya setempat),” jelas Raden Wijaya.

Myrna A Safitri, Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Badan Otorita IKN, menambahkan, diperlukan SDM yang mumpuni untuk mempersiapkan, membangun dan menyelenggarakan pemerintahan dan aktivitas di IKN.

“Dua strategi penyiapan SDM unggul untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan penyelenggaraan kegiatan di IKN telah disiapkan,” kata Myrna, yang alumni dari Fakultas Hukum Brawijaya Malang tersebut.

Yaitu pertama, menciptakan ekosistem pendidikan yang baik di Kaltim.

Kedua, menarik minat talenta dengan keterampilan menengah dan tinggi dari dalam dan luar negeri untuk pindah dan bekerja di IKN.

Kehadiran kedua narasumber dari nasional di Surabaya tersebut, merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) untuk menyiapkan SDM-SDM unggul terkait pembangunan dan pelaksana IKM.

Sekertaris Daerah (Sekda) Pemprov Kaltim, Sri Wahyuni, yang membuka acara tersebut di Surabaya, mengatakan, pihaknya perlu banyak masukan dan persiapan untuk menghadapi pembangunan dan penyelenggaraan IKN yang ada di wilayahnya.

“Sehingga SDM kami bisa lebih mumpuni dan siap menghadapi pembangunan dan penyelenggaran IKN ini. Dan kami gelar FIN I ini di Surabaya, untuk kami juga mendapatkan masukan, agar apa yang kami lakukan nantinya di IKN, juga sesuai dengan kebutuhan seluruh Indonesia atau Nusantara,” kata Sri Wahyuni saat membuka acara.


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.