Desember 5, 2022

Berita Surabaya

SURYA.co.id | SURABAYA – Program kehamilan lewat IVF atau bayi tabung tidak semuanya berhasil dilakukan.

Kegagalan embrio berkembang di dalam rahim hingga kelahiran dengan penyakit genetik masih memungkinkan terjadi.

Untuk itu, Morula IVF Indonesia melakukan studi tentang kegagalan program bayi tabung dan mulai menerapkan Teknologi PGT-A atau Pre-Implamantation Genetic Testing for Aneuploidy di Morula IVF seluruh Indonesia.

Di Surabaya, Morula IVF terdapat di National Hospital juga menyediakan program ini.

Direktur Scientific Morula IVF Indonesia, Prof Arief Boediono PhD menjelaskan PGT-A merupakan cara mendeteksi masalah kromosom pada embrio untuk mencegah terjadinya keguguran pada pasien ibu dan calon bayi tabung.

Teknologi PGT-A ini memberikan manfaat bagi pasangan yang memiliki kondisi sudah melakukan program bayi tabung berulang kali dan belum berhasil untuk hamil, pasangan yang memiliki riwayat keguguran berulang, pasangan yang memiliki riwayat kelainan bawaan pada kehamilan sebelumnya, dan pasangan yang sudah berusia di atas 38 tahun.

“Selain PGT-A terdapat pemeriksaan kromosom lanjutan lainnya yaitu PGT-M (Pre Implantation Genetic Testing for Monogenic / single-gene defect),” urainya.

Beberapa kelainan yang dapat dicegah dengan menggunakan teknologi PGT-M seperti di antaranya Thalassemia, Spinal Muscular Atropy, Cystic Fibrosis dan penyakit genetik lain yang bersifat menurun.

PGT-A Meningkatkan Persentase Kehamilan
“Saat embrio sudah terbentuk dalam program bayi tabung, maka bisa dilakukan tes ini sehingga memungkinkan proses seleksi embrio yang akan dimasukkan ke dalam rahim merupakan embrio sehat yang mempunyai tingkat keberhasilan hamil lebih tinggi,” ungkap Prof Arief.

Ia memaparkan, berdasarkan studi yang dikakukan timnya tahun 2019 hingga September 2022 pada hampir 500 pasien, mendapatkan hasil teknologi PGT-A membantu potensi kehamilan sebesar 68 persen di kelompok umur 38-39 tahun dan 46 persen usia diatas 40 tahun.

“Pada kelompok 38-39 tahun tersebut, persentase kehamilan dengan teknologi PGT-A lebih baik 25 persen dibanding kehamilan Non PGT-A dan di usia 40 tahun ke atas, PGT-A membantu persentase kehamilan 19 persen lebih baik dari yg Non PGT-A,” ujar Prof Arief.

Data lain dalam penelitian mengungkapkan bahwa pasien dalam rentang usia 36 tahun 44 tahun memiliki angka kromosom normal (euploid) yang jumlahnya lebih rendah dibandingkan kromosom tidak normal (aneuploid).

“Ini menunjukkan bahwa teknologi PGT-A harus direkomendasikan pasien dalam kelompok usia tersebut agar tujuan healthy embryo – healthy baby bisa terpenuhi,” urainya.

Di sisi lain saat teknologi ini dapat juga mengidentifikasi embrio dengan kromosom seks yang normal atau sehat dengan mengidentifikasi kromosom 46 XX atay 46 XY, dalam bahasa awam dikenal dengan deteksi jenis kelamin yang normal.

Direktur Medis Morula IVF Indonesia, Dr dr Arie A Polim MSc DMAS, SpOG (K) FER menambahkan kegagalan program bayi tabung terjadi karena sekitar 60-70 persen disebabkan karena kromosom yang tidak normal, terutama pada wanita usia di atas 38 tahun kerusakan kromosom bisa mencapai sekitar 75 persen.

Kromosom yang abnormal yang terjadi pada saat proses pembentukan sel-sel telur, sperma dan saat perkembangan embrio, dapat menyebabkan kromosom yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, atau bahkan hilangnya atau penambahan DNA.

“Kelainan kromosom itu dikenal sebagai aneuploidy. Hal ini dapat menyebabkan kelainan kromosom seperti Down Syndrome dan Edwards Syndrome serta 60 persen keguguran,” ujarnya.


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.