November 30, 2022

Jakarta: Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengakui pemenuhan stok beras pemerintah tidak akan mencapai target hingga akhir tahun. Diketahui, Indonesia memiliki target stok beras sebanyak 1,2 juta ton hingga akhir 2022 ini.
 
Budi mengatakan, hingga November ini, stok beras yang dimiliki pemerintah hanya sekitar 600 ribu ton. Artinya, stok beras tersebut hanya memenuhi setengah dari target yang ditetapkan.
 
“November ini, terakhir stok kita seperti yang disampaikan Ketua Badan Pangan Nasional hanya sekitar 600 ribu ton, tentunya ini juga menjadi satu kerawanan daripada stok yang ada di Bulog,” ujar Budi Waseso dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI, Rabu, 16 November 2022.


Ia juga menegaskan, untuk memenuhi target 1,2 ton tersebut pada akhir tahun ini tidak akan bisa tercapai. Budi menjelaskan, penyebab dari permasalahan ini ialah karena harga beras di dalam negeri terus mengalami kenaikan. Dengan adanya regulasi yang membatasi, tentunya Bulog juga tidak dapat memaksimalkan penyerapan hasil petani.
 
“Yang pertama seperti yang tadi dijelaskan, dulu ada fleksibilitas harga dengan harapan kita tetap bisa menyerap (hasil) para petani, tetapi begitu dikasih fleksibilitas harga dengan Rp8.800 per kilogram, kita dikunci dengan harga Rp8.900 per kilogram, jadi tetap tidak bisa beli dan itu akan meningkatkan inflasi,” ujar Budi.
 

 
Dengan aturan yang membatasi pembelian tersebut, tentunya membuat Bulog tidak bisa berbuat lebih banyak. Kemudian Bulog menginisiasi untuk menyerap hasil petani dengan harga pasar.
 
Namun, permasalahan lainnya juga dirasakan oleh Bulog, yaitu menyempitnya produksi beras dari petani dan barangnya pun juga terbatas. “Begitu kita mengikuti (harga) pasar, kita ini juga tidak bisa membeli dengan harga pasar karena barangnya terbatas,” tuturnya.
 
Selain itu, Budi Waseso juga mengungkap bahwa penyerapan hasil petani dalam negeri juga hanya mampu sebanyak 92 ribu ton. Jumlah ini jauh lebih rendah dari target yang ditetapkan sebelumnya sebanyak 500 ribu ton.
 
“Jadi target yang kita alokasikan kita sudah kumpulkan semua penggilingan dengan mitra kita yang sudah disepakati sampai Desember tahun ini kita bisa serap 500 ribu ton, itu sudah ada kesepakatan dengan mitra kita.”
 
“Tapi sampai hari ini, kita hanya bisa mampu menyerap 92 ribu ton dari target 500 ribu ton. Karena satu hal, barangnya sudah tidak ada pak,” tambahnya membeberkan.
(FICKY RAMADHAN)

 

(HUS)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.